Kantin “Cari Pasang”, Tempat yang Membuktikan Jodoh Tidak Selalu Soal Cinta, Kadang Soal Uang Patungan
Kalau mendengar nama “Kantin Cari Pasang”, jangan buru-buru merapikan rambut atau memperbaiki penampilan karena mengira ada biro jodoh di dalam kantor. Di lingkungan DP2KBP3A Kabupaten Gunung Mas, istilah “cari pasang” ternyata bukan mencari pasangan hidup, melainkan mencari pasangan uang sepuluh ribuan.
Pemandangan seperti ini sudah biasa terdengar menjelang jam makan siang.
“Sepuluh ribu cari pasang!”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari salah satu pegawai sambil mengangkat uang pecahan Rp10 ribu tinggi-tinggi, persis seperti sedang mengikuti lelang atau mencari investor dadakan.
Ajaibnya, tidak perlu waktu lama, tangan-tangan baik pun mulai bermunculan.
“Aku ikut sepuluh ribu.”
“Tambah dua puluh ribu ya.”
“Aku ikut, tapi jangan masak pare lagi.”

Dalam hitungan menit, modal makan siang pun terkumpul. Tidak ada proposal kegiatan, tidak ada rapat anggaran, apalagi tender pengadaan. Semuanya berjalan cepat, sederhana, dan penuh semangat gotong royong.
Dari hasil patungan itulah lahir berbagai menu andalan yang kadang direncanakan matang, kadang juga berubah sesuai isi dompet dan isi kulkas.
Hari ini bisa ikan goreng, besok bisa sayur bening, lusa tiba-tiba berubah menjadi mie goreng spesial karena “anggaran sedang efisiensi”.
Yang menarik, tidak ada aturan wajib ikut serta. Mau ikut silakan, belum bisa ikut juga tidak masalah. Tidak ada tagihan, tidak ada debt collector, dan yang paling penting tidak ada grup WhatsApp penagihan iuran.
Selain terkenal sebagai Kantin Cari Pasang, tempat ini juga layak mendapat predikat “kantin dengan tingkat kepercayaan tertinggi setelah hubungan orang tua dan anak.”
Mengapa?
Karena di sini tidak ada kasir.
Tidak ada mesin pembayaran.
Tidak ada CCTV yang mengawasi rak makanan.
Pegawai mengambil sendiri makanan atau minuman yang diinginkan, menghitung sendiri belanjaannya, lalu membayar ketika bertemu pengelola kantin.
Sistemnya sederhana: ambil sendiri, hitung sendiri, ingat sendiri, bayar sendiri.
Kalau lupa bayar? Biasanya bukan karena niat, tapi karena terlalu semangat bekerja atau terlalu kenyang setelah makan.
Kantin ini dikelola oleh Nopta Erina yang lebih dikenal dengan panggilan akrab “Acil Gemoy”. Namun karena kesibukan pekerjaan kantor, sering kali kantin berjalan secara otomatis seperti minimarket modern versi gotong royong.
Anehnya, sampai sekarang kantin ini tetap bertahan.
Makanan tidak hilang misterius.
Minuman tidak menguap sendiri.
Stok kopi masih ada setiap pagi.
Padahal menurut teori sebagian orang, sistem seperti ini seharusnya sudah bangkrut sejak bulan kedua.
Tapi ternyata kejujuran memang masih hidup dan sehat di kantor ini.
Kurang lebih satu tahun berjalan, Kantin Cari Pasang bukan hanya menjadi tempat mengisi perut, tetapi juga tempat bertukar cerita, berbagi tawa, membahas pekerjaan, hingga tempat lahirnya ide-ide baru.
Kadang masalah pekerjaan selesai di ruang rapat.
Kadang juga selesai sambil mengupas bawang di kantin.
Apalagi letak kantor yang cukup jauh dari warung makan membuat kantin ini menjadi penyelamat nasional setiap kali rasa lapar menyerang tanpa peringatan.
Pada akhirnya, Kantin Cari Pasang mengajarkan satu hal penting kepada kita semua:
Tidak semua “cari pasang” berakhir di pelaminan.
Ada juga yang berakhir menjadi sepanci sayur, sepiring ikan goreng, dan kebersamaan yang membuat suasana kantor terasa seperti keluarga sendiri.
(Yop-Sekretariat DP2KBP3A )