KUALA KURUN – Upaya meningkatkan kualitas hidup lanjut usia (lansia) di Kabupaten Gunung Mas terus dikembangkan melalui pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada kesehatan, tetapi juga mencakup aspek sosial, spiritual, kemandirian, dan keberdayaan. Salah satu langkah konkret tersebut diwujudkan melalui Launching Sekolah Lansia Standar I yang dilaksanakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Gunung Mas melalui Bidang Keluarga Berencana, Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga.

Kepala Bidang KBKS Demo Aruslin Purba S,ST,FT.MM Menerangkan, Kegiatan launching yang berlangsung di Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Estomihi Kuala Kurun ini, akan menjadi momentum penting dalam penguatan pembinaan lansia di lingkungan masyarakat. Sekolah Lansia ini tercatat sebagai Sekolah Lansia pertama yang dibentuk di lingkungan gereja di wilayah Kabupaten Gunung Mas.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan GKE yang berada di wilayah Kuala Kurun, Lurah Kurun, Puskesmas Kurun, Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Gunung Mas, serta pengurus lansia GKE.
Peluncuran Sekolah Lansia ini tidak sekadar menjadi seremoni pembentukan sebuah wadah pendidikan bagi kelompok lanjut usia. Lebih dari itu, keberadaannya merupakan bagian dari upaya membangun paradigma baru tentang lansia, bahwa memasuki usia lanjut bukan berarti berhenti beraktivitas, kehilangan peran, atau menjadi kelompok yang hanya membutuhkan perhatian.

Ketika diminta tanggapannya Kepala Dinas DP2KBP3A dr. Rina Sari, M.M berharap, Sebaiknya, lansia tetap memiliki potensi, pengalaman, pengetahuan, nilai-nilai kehidupan, serta kemampuan untuk berkontribusi dalam keluarga dan lingkungan sosial. Karena itu, pembinaan lansia perlu diarahkan agar mereka tetap sehat, mandiri, produktif, bermartabat, dan memiliki ruang untuk terus belajar sepanjang hayat.
dr.Rina berharap Melalui Sekolah Lansia, para peserta diharapkan memperoleh pengetahuan dan pembinaan yang dapat mendukung kehidupan mereka pada masa lanjut usia. Materi pembelajaran dapat mencakup pemeliharaan kesehatan, pola hidup sehat, kesehatan mental dan sosial, penguatan hubungan dalam keluarga, aktivitas produktif, kehidupan spiritual, serta berbagai pengetahuan yang menunjang kemandirian lansia.

Kehadiran Sekolah Lansia di lingkungan GKE Estomihi juga menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan lintas lembaga dalam membangun kesejahteraan lansia. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Dukungan gereja, keluarga, tenaga kesehatan, organisasi kemasyarakatan, serta komunitas lansia menjadi kekuatan penting agar program pembinaan lansia dapat berjalan secara berkelanjutan.
Dalam konteks pembangunan daerah, perhatian terhadap lansia juga memiliki makna yang lebih luas. Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia merupakan bagian dari dinamika demografi yang perlu diantisipasi dengan kebijakan dan program yang tepat. Lansia yang sehat dan mandiri akan memberikan dampak positif terhadap ketahanan keluarga sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap anggota keluarga lainnya.
Oleh karena itu, Sekolah Lansia diharapkan tidak berhenti sebagai tempat pembelajaran, tetapi berkembang menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat solidaritas, memperluas pengetahuan, menjaga kesehatan, serta mempertahankan peran lansia di tengah masyarakat.
Keberadaan Sekolah Lansia Standar I di GKE Estomihi Kuala Kurun sekaligus menjadi langkah awal untuk memperluas akses pembinaan lansia berbasis komunitas dan keagamaan di Kabupaten Gunung Mas. Model tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lembaga maupun komunitas lainnya untuk menghadirkan ruang pembelajaran yang ramah lansia sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Melalui sinergi antara pemerintah daerah, lembaga keagamaan, fasilitas kesehatan, organisasi lansia, dan keluarga, pembangunan kesejahteraan lansia diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Sekolah Lansia pada akhirnya bukan hanya tentang belajar di usia senja, tetapi tentang memastikan bahwa setiap fase kehidupan tetap memiliki ruang untuk bertumbuh, berdaya, dihargai, dan memberi manfaat bagi keluarga serta masyarakat.
(Sekretariat_DP2KBP3A Bid. KBKS _Yop)